Laporan Praktikum


PENGELOLAAN PUPUK NITROGEN PADA TANAMAN JAGUNG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Tinjauan Pustaka
Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrikamelalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang. Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn.
Sistimatika tanaman jagung adalah sebagai berikut:
Kingdom      : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisio          : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub Divisio   : Angiospermae (berbiji tertutup)
Classis          : Monocotyledone (berkeping satu)
Ordo             : Graminae (rumput-rumputan)
Familia          : Graminaceae
Genus           : Zea
Species         : Zea mays L.
Jenis jagung dapat dikelompokkan menurut umur dan bentuk biji.
a) Menurut umur, dibagi menjadi 3 golongan:
  1. Berumur pendek (genjah): 75-90 hari, contoh: Genjah Warangan, Genjah Kertas, Abimanyu dan Arjuna.
  2. Berumur sedang (tengahan): 90-120 hari, contoh: Hibrida C 1, Hibrida CP 1 dan CPI 2, Hibrida IPB 4, Hibrida Pioneer 2, Malin,Metro dan Pandu.
  3. Berumur panjang: lebih dari 120 hari, contoh: Kania Putih, Bastar, Kuning, Bima dan Harapan.
b) Menurut bentuk biji, dibagi menjadi 7 golongan:
  1. Dent Corn
  2. Flint Corn
  3. Sweet Corn
  4. Pop Corn
  5. Flour Corn
  6. Pod Corn
  7. Waxy Corn
Jagung Varietas unggul mempunyai sifat: berproduksi tinggi, umur pendek, tahan serangan penyakit utama dan sifat-sifat lain yang menguntungkan. Varietas unggul ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: jagung hibrida dan varietas jagung bersari bebas. Nama beberapa varietas jagung yang dikenal antara lain: Abimanyu, Arjuna, Bromo, Bastar Kuning, Bima, Genjah Kertas, Harapan, Harapan Baru, Hibrida C 1 (Hibrida Cargil 1), Hibrida IPB 4, Kalingga, Kania Putih, Malin, Metro, Nakula, Pandu, Parikesit, Permadi, Sadewa, Wiyasa, Bogor Composite-2.
Pupuk nitrogen (N) merupakan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman untuk proses pertumbuhan, nitrogen terdapat sangat sedikit dalam tanah maka agar produksi jagung atau tanaman meningkat digunakan pemupukan.ketidak tepatantan pemberian pupuk N sangat merugikan bagi tanaman dan lingkungan (FFTC, 1994).  Secara umum pupuk N dapat meningkatkan produksi jagung.  Nitrogen diperlukan oleh tanaman  jagung sepanjang pertumbuhannya.  Pada awal pertumbuhannya akumulasi N dalam tanaman relatif lambat dan setelah tanaman berumur 4 minggu akumulasi N berlangsung sangat cepat.  Pada saat pembungaan (bunga jantan muncul) tanaman jagung telah mengabsorbsi N sebanyak 50% dari seluruh kebutuhannya (Sutoro, et al, 1988).  Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil jagung yang baik, unsur hara N  dalam tanah harus cukup tersedia pada fase pertumbuhan tersebut. Percobaan menunjukkan bahan vigor benih jagung meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah takaran N (nitrogen) yang digunakan.  Pemupukan N akan meningkatkan kandungan protein kasar dalam biji sehingga berat jenis biji akan meningkat.  Peningkatan berat jenis tersebut akan menaikkan mutu benih yang diukur berdasarkan daya kecambah dan kekuatan tumbuhnya. Defisiensi N pada tanaman jagung akan memperlihatkan gejala pertumbuhan yang kerdil dan daun tanaman berwarna hijau kekuning-kuningan yang berbentuk huruf V dari ujung daun menuju tulang daun dan dimulai dari daun bagian bawah.  Selain itu tongkol jagung menjadi kecil dan kandungan protein dalam biji rendah. Pemberian pupuk yang tepat selama pertumbuhan tanaman jagung dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.  Karena sifat pupuk N yang umumnya mobile, maka untuk mengurangi kehilangan N karena pencucian maupun penguapan, sebaiknya N diberikan secara bertahap.  Percobaan Iskandar et al,  (1980) pada lahan tegalan  di Bogor menunjukkan bahwa pemberian N sekaligus akan memberikan hasil lebih rendah dari pada pemberian secara bertahap pada takaran yang sama. Strategi pengelolaan pupuk N yang optimal ditujukan kepada pemupukan N yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga dapat mengurangi kehilangan N dan dapat meningkatkan serapan N oleh tanaman.
Tujuan dari penelilitian ini adalah untuk 1) mengetahui skala optimalisasi pengaruh pupuk N yang tepat pada jagung hibrida untuk meningkatkan produktifitas jagung.
1.2. Metode Penelitian
a.    Lokasi dan Waktu pelaksanaan
Praktikum dilaksanakan di lahal Praktikum Agronomi milik Universitas Djuanda Bogor di Kecamatan Ciawi. Pola tanam menggunakan pola tanam umum pada padi dan palawija.
b.    Perlakuan
Perlakuan  ditata secara acak kelompok lengkap (Randomized Completely Blok Design, RCBD).  Perlakuan yang diuji adalah sebanyak 10 (sepuluh) perlakuan.  Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 (empat) kali.  Masing-masing petak perlakuan berukuran 5 x 6 m dengan jarak 80 x 40 cm.  Varietas yang digunakan adalah hibrida C-7.
c.    Pelaksanaan
1.      Pengolahan tanah
Tanah diolah dengan cara membalik lapisan bawah dengan menggunakan cangkul.  Kemudian digemburkan atau diperkecil gumpalan-gumpalan tanah sehingga tanah kelihatan lebih halus dengan menggunakan garpu kecil dan parang.
2.      Penanaman
Benih ditanam 2 –3 biji/lubang dengan jarak tanam 75 x 40 cm pada kedalaman 3 - 5 cm.  Sebelum tanam, lahan diairi sedikit sehingga memudahkan penugalan.  Setiap lubang tanam diberi furadan diberikan saat tanam.  Setelah berumur 7 hari, tanaman dijarangkan dan dipertahankan 2 tanaman per rumpun.
3.      Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 (dua) kali yaitu pada saat tanaman berumur 15 hari setelah tanam (HST) dan 30 HST dan sekaligus dilakukan pembumbunan.
4.      Pemupukan
a.    Pupuk dasar (I)
o  Pupuk dasar yang di berikan pada tanah adalah pupuk kandang.
o  Untuk perlakuan 1 (satu) sampai 24 lubang pupuk dasar diberikan sebanyak 23 kg N/ha + 36 kg P2O5/ha + 30 kg K2O/ha, diberikan juga pada umur tanaman 7 HST.
o  Untuk perlakuan G, pupuk dasar diberikan ½ bagian N dan seluruh bagian P2O5 dan K2O.  Masing-masing dengan dosis 69 kg N/ha + 36 kg P2O5/ha + 30 kg K2O/ha.  Pupuk dasar diberikan pada umur  tanaman 7 HST.  Pupuk ditugal agak berjauhan dari lubang kemudian ditutup kembali.
b.    Pupuk susulan (II)
o  Untuk perlakuan G, pemupukan N yaitu ½ bagian sisanya diberikan pada tanaman berumur 30 HST.  Pupuk dituggal 15 cm dari tanaman sedalam 10 cm.
5.      Panen dan pasca panen
Panen dilakukan pada saat biji masak fisiologis, dengan tanda-tanda kelobot sudah mengering berwarna kuning kecoklatan, bijinya keras dan mengkilap.  Setelah dilakukan  pengupasan  dan  pemipilan, biji jagung dijemur hingga kadar air mencapai 14%.
d.   Variabel yang diamati
1.    Tinggi tanaman minggu pertama HST
2.    Jumlah daun minggu HST sampai panen
3.    Komponen hasil berupa :
ü Panjang tongkol 
ü Jumlah Biji
ü Lingkar tongkol dengan kelobot
ü Lingkar tongkol tanpa kelobot
ü Berat tongkol dengan kelobot
ü Berat tongkol tanpa kelobot
e.    Analisis data
1.    Data agronomis dianalisis dengan menggunakan Analysis of Variance (AOV) dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT 0.05)
2.    Untuk mengetahui Agronomic efficecy for N (AEN) dan PFP-N (Partial Factor Productivity for Applied N) dilakukan dengan analisis tabelaris.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Keragaan agronomis
Pengamatan terhadap keragaan agronomis berupa tinggi tanaman,Jumlah daun HST panjang tongkol, dan jumlah baris/tongkol disajikan pada Tabel 1.
Rata-rata tinggi tanaman dari beberapa perlakuan yang diuji terlihat bahwa perlakuan BWD 5 @ 11,5 N/aplikasi mencapai tanaman tertinggi yaitu 181,40 cm.  Terlihat bahwa penggunaan pupuk N yang berbeda dapat mempengaruhi tinggi tanaman. Untuk parameter panjang tongkol dan lingkar tongkol didapatkan bahwa pemupukan nitrogen BWD 5 @ 23 N/aplikasi mencapai tongkol terpanjang dan lingkar tongkol terlebar yaitu berturut–turut 16,9 cm dan 14,18 cm, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan dosis N rekomendasi, sedang terpendek tanpa pupuk N (kontrol).  Terlihat bahwa pemberian pupuk N dengan jumlah dan waktu yang tepat berpengaruh terhadap komponen hasil (panjang tongkol dan lingkar tongkol).  Dimana pemberian pupuk pada perlakuan BWD 5 @ 23 N/aplikasi paling sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan tanaman (Tabel 1).
Pemberian pupuk N yang berbeda dapat mempengaruhi bobot biomas dan bobot kelobot jagung.  Perlakuan BWD 5 @ 11,5 N/aplikasi dapat mencapai bobot biomas tertinggi yaitu 15,18 t/ha, tapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lain kecuali dengan perlakuan tanpa pupuk N, sedang bobot kelobot tertinggi dicapai pada perlakuan BWD 5 @ 23 N/aplikasi yaitu 2,36 t/ha.  Ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk harus dalam jumlah dan waktu yang tepat sesuai dengan stadia pertumbuhan tanaman karean setiap stadia akan mempangaruhi stadia yang lain (Tabel 2).
Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman dan Jumlah Daun pada Minggu ke-1 HST.
Perlakuan
Tinggi tanaman (cm) (cm)
Jumlah Daun
Lingkar tongkol (cm)
N0



N1



N2



N3



N4



Ket : *)            Angka diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan .05.
  tn = tidak berbeda nyata
Pengamatan terhadap rata-rata produktivitas, terlihat bahwa pemberian pupuk N yang berbeda dapat mempengaruhi produktivitas.  Dari hasil analisis didapatkan bahwa perlakuan BWD 5 @ 23 N/aplikasi dengan total penggunaan N 92 kg/ha mencapai produktivitas tertinggi yaitu 9,72 t/ha, tidak berbeda nyata dengan perlakuan dosis rekomendasi. 
Tabel 2. Rata-rata bobot brangkasan, bobot kelobot, dan produktivitas jagung pada pengkajian pengelolaan nitrogen pada tanaman jagung dengan alat pandu skala warna daun.  Peresak. Lombok Barat.  MK II. 2001.
Perlakuan
Bobot Biomas (t/ha)
Bobot kelobot (t/ha)
Produktivitas (t/ha)
BWD 3 @ 11,5 N
10,73  ab *)
1,20  ab  *)
5,56  ab *)
BWD 3 @ 23 N
11,22  ab
1,68  abc
6,08  abc
BWD 4 @ 11,5 N
12,94  ab
1,84  bc
7,20  bc
BWD 4 @ 23 N
12,13  ab
1,88  bc
7,64  cd
BWD 5 @ 11,5 N
15,18  b
2,20  c
7,76  cd
BWD 5 @ 23 N
14,52  b
2,36  c
9,72  e
Dosis Rekomendasi
13,92  b
2,40  c
9,28  de
Kontrol
  8,93  a
0,96  a
4,52  a
C.V (%)
24,2
30,1
16,3
  Ket : *)          Angka diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan .05.
Nilai imbangan penggunaan 1 kg N untuk setiap perlakuan akan berbeda karena produktivitas dan jumlah penggunaan pupuk yang berbeda.  Perlakuan BWD 3 @ 11,5 N/aplikasi memiliki nilai imbangan (PFP) yang besar, akan tetapi produktivitas yang dicapai tidak maksimum.  Sebaliknya perlakuan dengan jumlah penggunaan pupuk N yang banyak, akan memperoleh nilai imbangan (PFP) yang kecil, tetapi produktivitas yang dicapai relatif tinggi. 
Tabel  3.  Rata-rata jumlah penggunaan N, produktivitas, AEN dan PFP N pada pengkajian pengelolaan pupuk N pada tanaman jagung dengan alat pandu bagan  warna daun. Peresak. Lombok Barat.  MK II. 2001.
Perlakuan
Jumlah pemakaian N (kg/ha)
Produktivitas (t/ha)
AEN
PFP N
BWD 3 @ 11,5 N
34,5
5,56
30,14
161,16
BWD 3 @ 23 N
46
6,08
33,91
132,17
BWD 4 @ 11,5 N
57,5
7,20
46,61
125,22
BWD 4 @ 23 N
92
7,64
33,91
83,04
BWD 5 @ 11,5 N
80,5
7,76
40,25
96,40
BWD 5 @ 23 N
92
9,72
56,52
105,65
Rekomendasi
138
9,28
34,49
67,25
Kontrol
0
4,52
0
0
Ket : AEN = Agronomis efisiensi; PFP = partial factor productivity for applied N
Tabel 4.  Analisis anggaran parsial pada pengkajian pengelolaan nitrogen pada tanaman jagung dengan alat pandu skala warna daun. Peresak Lombok Barat MK II. 2001.(Rp  x 1.000)
Uraian
Dosis pupuk N (kg/ha)
34,5
46
57,5
69
80,5
92
138
0
1.Rata-rata hasil   (t/ha)
5,560
6,080
7,200
7,640
7,760
9,720
9,280
4,520
2.Hasil bersih (t/ha)*
5,282
5,776
6,840
7,258
7,372
9,234
8,816
4,294
3.Penerimaan kotor    (Rp/ha)
4753,8
5198,4
6156,0
6532,2
6634,8
8310,6
7934,4
3864,6
4.Harga pupuk N (Rp/ha)
86,25
115
143,75
172,5
201,25
230
345
0
5.Frekwensi aplikasi
2
2
4
3
6
4
2
-
6.Total biaya aplikasi (Rp/ha)
60
60
120
90
180
120
60
0
7.Total biaya variabel (Rp/ha)
146,25
175
263,75
262,5
381,25
350
435
0
8.Penerimaan bersih (Rp/ha)
4607,55
5023,4
5893,5
6269,7
6253,55
7960,6
7499,4
3864,6
Keterangan: * Diasumsikan bahwa kehilangan hasil pada saat panen dan prosesing  serta saat penyimpanan diperkirakan sebesar 5 %.
Tabel 5. Analisa usahatani pengkajian efisiensi pupuk nitrogen pada tanaman jagung  hibrida. Peresak. Lombok Barat. MK.II 2001.(x Rp.1000)
Uraian
Dosis pupuk N (kg/ha)
34,5
46
57,5
69
80,5
92
138
0
1.                  Rata-rata hasil (t/ha)
5,560
6,080
7,200
7,640
7,760
9,720
9,280
4,520
2.                  Hasil bersih (t/ha)*
5,282
5,776
6,840
7,258
7,372
9,234
8,816
4,294
3.                  Harga pupuk N (Rp/ha)
86,25
115
143,75
172,5
201,25
230
345
0
4.                  Biaya aplikasi N (Rp/ha)
60
60
120
90
180
120
60
0
5.                  Total biaya variabel (Rp/ha)
146,25
175
263,75
262,5
381,25
350
435
0
6.                  Total biaya tetap
2163.75
2135
2046.25
2047.5
1928.75
1960
1875
1875
7.                  Penerimaan bersih (Rp/ha)
2972
3466
4530
4948
5062
6924
6506
 2419
8.                  B/C ratio
1.28
1.5
1.96
2.14
2.19
2.997
2.82
1.29
Keterangan: * Diasumsikan bahwa kehilangan hasil pada saat panen dan prosesing  serta saat penyimpanan diperkirakan sebesar 5 %.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

  
3.2 Saran




DAFTAR  PUSTAKA


Affandi,  A. 1986.  Pembangunan Pertanian  di Indonesia. Departemen Pertanian Repeblik Indonesia. 53 P.
FFTC (Food and Feertilizier Technology Center).  1994.  Fertlizier Use and Sustainable Food Production.  Food and Fertilizier Technology Center for The Asian and Pasific Center Region.  Taipe.  Taiwan.  FFTC.  Newsletter 104 (june 1994). 4-5.
IRRI-CREMNET (International Rice Research Institute- Crop and Resource Management Network), 1998.  Progress Report for 1997.  IRRI, Los Banos, Philippines.
Iskandar, S. dan A. Kodir.  1980.  Pengaruh Waktu Pemberian N Terhadap Hasil Jagung dalam Penelitian dan Teknologi Peningkatan Produksi Jagung di Indonesia. Puslitbangtan Bogor.
Malian,. A.H.  1995.   Analisis Ekonomi  Usahatani  untuk  Petani  Kecil.  Makalah Pelatihan Analisis Ekonomi Sistem Usahatani.  Kupang 18 – 23 Desember 1997.
Pian, Z. A.  1981.  Pengaruh Uap Etil Terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L.) dan Simpan IPB Bogor 279P
Utoro, Toyo Soelaeman, dan Iskandar.  1988.  Budidaya Tanaman Jagung dalam Jagung.   Badan Litbang Pertanian. Puslitbangtan Bogor.